Surat Kuasa

by Mariske Myeke Tampi, S.H., M.H.

Definisi Surat Kuasa adalah pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seorang memberikan kekuasaan kepada seorang lain, yang menerimanya, untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan (Pasal 1792 KUH Perdata).

Syarat Pemberian Kuasa atau lastgeving (volmacht, fullpower) sebagai Lembaga Hukum:

  • Pemberi kuasa melimpahkan perwakilan atau mewakilkan kepada penerima kuasa untuk mengurus kepentingannya, sesuai dengan fungsi dan kewenangan yang ditentukan dalam surat kuasa;
  • Dengan demikian, penerima kuasa (lasthebber, mandatory) berkuasa penuh, bertindak mewakili pemberi kuasa terhadap pihak ketiga untuk dan atas nama pemberi kuasa;
  • Oleh karena itu, pemberi kuasa bertanggung jawab atas segala perbuatan kuasa, sepanjang perbuatan yang dilakukan kuasa tidak melebihi wewenang yang diberikan pemberi kuasa.

Sifat Perjanjian Kuasa:

  • Penerima kuasa langsung berkapasitas sebagai wakil pemberi kuasa
  • Pemberian kuasa bersifat konsensual
  • Berkarakter garansi-kontrak (Pasal 1806 KUH Perdata)

Berakhirnya Perjanjian Kuasa (Pasal 1813 KUH Perdata):

  1. Pemberi kuasa menarik kembali secara sepihak (Pasal 1814 KUH Perdata)
  2. Salah satu pihak meninggal (Pasal 1813 KUH Perdata)
  3. Penerima kuasa melepas kuasa (Pasal 1817 KUH Perdata)
  4. Dapat disepakati kuasa mutlak (Penyingkiran Pasal 1813 KUH Perdata, dapat disetujui hakim menurut Pasal 1338 KUH Perdata dan sepanjang tidak bertentangan dengan Pasal 1337 KUH Perdata). Hal ini tidak berlaku untuk jual beli tanah. Berdasarkan Instruksi Mendagri Nomor 14 Tahun 1982, Notaris dan PPAT dilarang memberi surat kuasa mutlak dalam transaksi jual-beli tanah.

Comments

Leave a comment